Lasti: Sebuah Cerita tentang Ketulusan Menjalani Hidup

Aku mengarahkan pandangan ke luar jendela, sudah lewat jam 1 siang dan bus yang kami tumpangi belum lagi melewati setengah perjalanan. Aku bosan, tidak ada yang menarik dengan pemandangan di luar, hanya ada jajaran warung kecil, petak-petak kebun, dan tambak milik warga. Rusdi, kawan seperjalananku, tertidur pulas sejak bus mulai meninggalkan terminal pagi tadi.Ditambah perut yang sejak tadi merengek minta diisi, lengkap sudah kejengkelanku. Bus yang kami tumpangi akhirnya berhenti di sebuah tempat, Rumah Makan Doa Ibunda sejak 1968, begitu tulisan yang kubaca dari neon box raksasa di pintu masuknya. Rasanya nama ini sudah tak asing buatku, sepanjang jalan tadi aku melihat beberapa rumah makan dengan nama serupa. Ah, sudahlah, aku tak mau berpikir lama, yang pasti aku segera bisa makan.

Semua penumpang turun, tak terkecuali aku yang terlebih dahulu membangunkan Rusdi. Aku yang kelaparan segera menuju meja saji dan menyikat makanan apapun yang menurutku menarik, tiba-tiba Rusdi datang dan mencolek lenganku, “Cobain ayam penyetnya, Dev. Beuh, juara dunia bro.” katanya sembari mengacungkan jempol dengan ekspresi tak tergambarkan. Dibuat penasaran, maka akupun memesan makanan yang konon kabarnya menjadi primadona di sini, dan benar saja, aku merasa melayang segera setelah ayam dengan sambal merahnya menyentuh lidah. Kombinasi ayam goreng renyah dan sambal pedas yang segar sungguh mengugah selera, bumbu ayam yang meresap dan aroma jeruk dan terasi pada sambal semakin menguatkan rasa. Aaah, ini yang aku sebut dengan surga dunia.

Aku makan dengan lahap, hingga tanpa sadar aku merasa seseorang sedang memperhatikanku, foto di ujung ruangan itu rupanya. Foto hitam putih ukuran besar yang menampilkan seorang perempuan dengan kebaya yang tersenyum seolah menyapa kami semua. Meski senyumnya ramah entah kenapa aku sedikit merinding dibuatnya. “Itu siapa sih? Serem amat foto kaya gitu dipajang di tempat makan kaya gini.” Protesku pada salah seorang pegawai di sana. “Itu tuh Bu Lasti. Pendiri rumah makan ini. Hebat banget loh orangnya.” Jawab pegawai tersebut. “Emang gimana hebatnya?” Tanyaku lagi yang dijawab dengan sebuah kisah tentang perempuan dalam foto itu.

1958

Bertahun silam, Lasti pernah menjadi remaja yang berbahagia. Ia bukan anak orang kaya, Ayahnya hanya seorang kuli panggul di pasar, dan ibunya harus membagi perhatian antara mengurus 6 orang anak dan membantu mencari nafkah dengan mencucikan baju-baju milik beberapa juragan tanah, dan Lasti, sepulang sekolah akan dengan senang hati membantu mengasuh adik-adiknya sementara ibunya pergi bekerja. Biasanya Lasti akan mengajak adik-adiknya pergi ke sungai dan menangkap ikan, keong, atau kerabat kerang-kerangan untuk kemudian dimasak sebagai lauk makan malam. Sesekali ia juga mengajak mereka menyusuri pematang sawah dan mengumpulkan sayur-sayuran yang banyak tumbuh disana. Semua dilakukan Lasti dengan bahagia, dengan gembira.

Lasti remaja yang ceria, ini membuatnya disukai oleh semua orang. Lasti yang ramah, Lasti yang pemurah, Lasti yang tak pernah marah. Semua mengenalnya seperti itu. Lasti pernah punya cita-cita, ingin jadi bidan, mengingat Bidan Desi yang membuka praktek di desanya memiliki rumah besar bak istana. Maka dalam pikiran Lasti kecil yang polos itu, menjadi bidan adalah caranya untuk mengangkat keluarganya dari kubangan kemiskinan dan dapat tetap membantu banyak orang. Mimpi itulah yang menjadi cambuk untuknya menempuh pendidikan. Lasti rela berjalan belasan kilometer setiap kalinya untuk berangkat sekolah.

Seperti semua remaja seusianya, Lasti juga memiliki seorang teman dekat, Gunawan namanya. Gunawan anak Pak Sekdes, lebih dewasa daripada remaja seusianya, pemilik lesung pipit dan rambut belah pinggir yang selalu tersisir rapi. Gunawan sering meminjami Lasti buku, mengajarinya matematika, berlatih bersama mengerjakan soal-soal fisika, hingga melakukan percobaan-percobaan kimia. Hanya pada Gunawan Lasti bercerita tentang cita-citanya menjadi bidan lalu Gunawan berjanji, dirinya sudah akan menjadi direktur saat Lasti menjadi bidan nanti. Meski mereka sama-sama suka, Lasti tahu, ini belum waktunya mejalin cinta, Lasti ingin belajar dan menjadi bidan seperti cita-citanya, dan Gunawan tahu diri, mendukung Lasti dan berjanji akan menunggu hingga mereka dewasa nanti.

Lasti berangkat sekolah segera setelah jemaah pulang dari surau usai Shalat Subuh. Matahari baru tampak bercak-bercaknya saja, ia berjalan kaki menuju sekolah dengan semangat membara. Namun hari itu, Lasti harus pulang lebih dahulu, bukan karena sekolah dibubarkan karena rapat guru. Kepala sekolah berkata, Lasti harus kembali esok hari bersama orang tuanya. Pagi itu, matahari bahkan belum bersinar dengan sempurna, dari jendela kelas Gunawan melihat punggung Lasti keluar dari gerbang sekolah.

Lasti tidak tahu kenapa ia harus pulang lebih dahulu, Lasti hanya kecewa karena hari itu ada pelajaran Kimia kesukaannya, lalu jadwal latihan drama, dan saat istirahat nanti, Gunawan sudah berjanji akan meminjamkan buku baru miliknya. Lasti kecewa karena hari itu ia bahkan belum sempat bertemu dengan teman-teman sekelasnya, belum mendengar sapaan pagi Gunawan yang selalu menenangkan hatinya. Lasti hanya ingin sekolah. Lasti hanya ingin bermain bersama teman-temannya.

Lasti tiba di rumah tetap dengan senyum manisnya, saat Emak bertanya, Lasti menjawab hari itu guru-guru akan menengok saudara dari kepala sekolah yang sakit sehingga siswa-siswa dipulangkan lebih cepat. Emak tersenyum dan mengucapkan belasungkawa lalu segera bersiap diri untuk bekerja sementara Lasti menggantikannya menjaga adik-adik. Emak hari itu yang dapat berangkat kerja lebih cepat sehingga dapat menghasilkan uang lebih banyak.

Malam hari, Lasti memberanikan diri mengatakan pesan kepala sekolah pada bapaknya. Tidak ada rona keterkejutan di wajah bapak. Hanya sebuah anggukan kecil dan senyum samar tanda memahami ucapan Lasti. Keesokan harinya, dengan pakaian terbaik, Bapak membonceng Lasti dengan sepeda tuanya menuju sekolah. Lasti merasa bangga membayangkan Bapak dengan pakaian terbaiknya sedang ada di ruang kepala sekolah. Duduk bersama membicarakan dirinya. Mungkin, Kepala Sekolah sedang memberitahu bapak betapa cemerlangnya Lasti dalam Matematika, bisa juga tentang Lasti yang pandai menjawab soal-soal Fisika, atau mungkin tentang kehebatan Lasti berakting dalam drama. Ah, betapa semua pikiran menyenangkan ini saja cukup untuk membuat Lasti bahagia.

Tapi harapan tinggal harapan, bukan berita gembira yang diberitakan Pak Kepala Sekolah, tapi berita pilu tentang Lasti yang mulai esok hari tidak boleh masuk sekolah karena belum melunasi biaya pendidikan selama 5 bulan. Bagai disambar petir di siang bolong, berita tersebut membekukan Bapak dan Lasti sekaligus. Punah sudah mimpi-mimpi Lasti, hilang sudah semua cita-citanya. Dengan langkah gontai bapak dan anak itu menuntun sepedanya meninggalkan pelataran parkir. Lasti tidak sempat mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman sekelasnya. Bahkan pada Gunawan sekalipun.

Waktu berlalu, setelah berbulan hanya berdiam diri di rumah dan mengurus adik-adiknya ,Tarman, seorang sopir truk antar propinsi memberitahunya tentang lowongan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah warung nasi di jalur pantura. Maka pagi-pagi buta, diantar sedu sedan ibunya, berangkatlah Lasti menumpang truk yang dikemudikan Tarman.

Lasti, belum 15 tahun usianya, segera menjadi kesayangan Bu Tuti, pemilik warung makan. Lasti yang giat, Lasti yang trengginas katanya. Lasti bangun pagi buta sebelum ayam berkokok, bahkan sering ada gurauan jika justru Lasti lah yang membangunkan ayam jantan tua milik Bu Tuti agar segera berkokok. Lasti dengan segera juga menjadi kesayangan para pelanggan yang kebanyakan supir truk itu, Lasti yang ramah, Lasti yang melayani sepenuh hati. Tapi para supir itu tak sampai hati jika harus menggoda Lasti, bagi mereka anak itu terlalu lugu dan polos untuk digoda sementara ada banyak perempuan yang dengan senang hati digodai di luar sana. Tidak, Lasti bukan perempuan seperti itu. Mereka lebih senang menganggap Lasti adik, bahkan beberapa diantaranya sudah menganggap Lasti anak sendiri dan tak jarang memberi Lasti tip yang kemudian ia tabung di dalam kaleng bekas biskuit di kamar kecilnya.

Dua tahun Lasti tak pulang ke desa, ia rindu keluarga dan sanak saudaranya, ia rindu suasana desa dengan udara yang tanpa polusi, terlebih, ia rindu Gunawan, cinta pertamanya. Karena sayangnya pada Lasti, Bu Tuti memberikan libur agar ia bisa pulang ke desa. Betapa senang hatinya, tak lupa ia belikan masing-masing sepasang baju untuk orang tua dan adik-adiknya serta sebuah mukena baru untuk ibunya, Lasti pun menghadiahi dirinya beberapa pasang pakaian indah dan gincu berwarna merah menyala yang akan ia kenakan di desa nanti dengan harapan akan mengesankan Gunwan. Ah, tak sabar rasanya ia bertemu lelaki tampan itu. Bagaimana rupanya kini? Tentu badannya semakin tinggi. Lasti tersipu malu hanya dengan memikirkannya.

Pagi-pagi buta, Lasti kembali menumpang truk Tarman untuk pulang ke desa. Ia disambut lagi-lagi oleh derai tangis ibu yang terlalu rindu, semua orang menyambut Lasti yang kini berubah semakin jelita. Pergaulan kota sedikit banyak telah merubahnya. Lasti yang saat pergi masih merupakan remaja kurus dan seperti tak terurus kini tampil menawan dengan pakaian modis dan wajah rupawan. Lasti disambut bak artis ibu kota. Hingga sore tetangga tak hentinya berdatangan ke rumah Lasti, sekedar menanyakan kabar hingga mencari kesempatan agar anaknya dibawa Lasti bekerja di kota. Lasti meladeni semua yang datang dengan suka cita, tapi kepalanya terus-terusan mencari-cari sosok dari masa lalu yang begitu dirindukannya, Gunawan.

Sudah 5 malam dilalui Lasti di desa, dan ia belum juga bertemu dengan Gunawan. Akhirnya Lasti memberanikan diri menemui cinta pertamanya itu. Pagi sekali ia berjalan kaki menuju rumah Pak Sekdes, dengan buah tangan yang ia persiapkan untuk Gunawan. Tapi yang dicari tak dapat ia temui, pembantunya berkata Gunawan pergi memancing dan baru akan kembali sore nanti. Dengan kecewa Lasti pulang dan menyampaikan bahwa ia akan kembali esok. Keesokan harinya, pembantu yang sama berkata Gunawan kali ini sedang berburu di hutan, dan kemungkinan baru akan kembali lepas petang. Lasti kembali pulang dengan tangan hampa. Tapi ia belum menyerah, keesokan harinya Lasti kembali ke rumah Gunawan, tapi lagi-lagi ia tidak ada, pembantunya mengatakan Gunawan sedang menengok seorang teman yang sakit di kota kecamatan. Malam sekali kemungkinan baru pulang. Lasti kecewa, tapi ia benar-benar ingin menemui Gunawan. Maka hari keempat ia tetap mendatangi rumah pemuda itu, kali ini Pak Sekdes langsung yang menyambutnya, tapi tidak seperti yang ia bayangkan, Pak Sekdes yang dulu ia kenal ramah dan mengayomi warga tampak berbeda hari ini, matanya penuh kekesalan, ia menghardik Lasti yang berulang kali datang ke rumahnya. Lalu berkata bahwa bagaimana pun Gunawan tidak akan mau menemui seorang pelayan seperti dirinya dan Lasti tidak perlu berharap banyak, Gunawan dan dirinya tidak mungkin bersatu karena berbeda kasta. Lagipula, Gunawan sudah dijodohkan dengan putri Pak Camat yang calon guru. Dan mengenal Lasti adalah hal memalukan bagi Gunawan.

Lasti hanya bisa diam mendengar cecaran Pak Sekdes, hatinya sakit bagai disayat sembilu. Bukankah dulu Gunawan berjanji menunggu hingga mereka dewasa? Begitu rendahkah ia dimata mereka hanya karena status sosial yang tidak setara? Mengapa hanya karena ia pelayan warung makan Gunawan lalu mengalihkan pandangan? Tak pantaskah ia mendapatkan kasih sayang meski hanya seorang pelayan? Hati lasti patah, harapannya musnah. Ia berjalan pulang dengan tenaga yang tersisa.

Pagi-pagi sekali Lasti mengemasi barang-barangnya, ia akan kembali ke kota meski waktu liburnya masih tersisa 1 minggu. Bu Tuti menyambut Lasti dengan sukacita, usai kepulangannya ke desa ia jadi semakin rajin bekerja. Bu Tuti tak sampai hati untuk tak menaikan upahnya. Hingga setelah bertahun berlalu, Lasti meminta ijin pada Bu Tuti untuk membuka warung nasinya sendiri bermodalkan upah yang ia tabung selama ini. Warung Nasi Doa Ibunda, begitu Lasti akan menamainya.

1967

Di hari pertama pembukaan warungnya, masakan Lasti terjual habis. Kabar tentang rasanya yang enak dan harga yang bersahabat segera menyebar dan mengundang lebih banyak pelanggan. Terlebih ayam goreng penyet yang dibuat Lasti mampu membuat lidah siapun berdendang. Lasti mengolah sendiri makanan-makanan di warungnya sehingga rasa dan kualitasnya selalu terjaga.

Waktu berlalu, warung nasi milik Lasti kini semakin terkenal. Iapun membesarkan usahanya dengan menambah lahan dan merekrut beberapa karyawan, warung nasi ini dengan segera berubah menjadi sebuah rumah makan yang laris manis. Rumah Makan Doa Ibunda, atau orang-orang senang menyebutnya dengan Rumah Doi supaya singkat. Sudah ada 8 cabang di sepanjang jalur pantura yang panjang itu, belum lagi beberapa cabang yang baru di buka di jalanan puncak Bogor. Rumah Doi dengan menu andalan ayam penyet menjadi primadona karena selain rasanya yang enak, pelayanannya yang ramah, rasanya juga murah. Sangat pas jika dijadikan tempat makan bersama keluarga.

1978

Suatu hari sebuah mobil berhenti di pelataran parkir rumah makannya, dari dalam keluar seorang lelaki berumur akhir 30an. Lasti masih ingat betul lesung pipit dan senyum manis itu, dia Gunawan. Lelaki dari masa lalunya. Lasti segera menemui tamu istimewa tersebut, Gunawan tak kalah terkejutnya melihat Lasti. Ia sebelumnya tidak mengetahui jika rumah makan ini adalah miliknya. Lasti menyajikan ayam penyet yang menjadi primadona di sana dan menikmatinya bersama Gunawan. Gunawan sangat bangga melihat kondisi Lasti saat ini, pujian tulus tak hentinya keluar dari mulut lelaki itu. Mereka saling berbagi cerita mulai dari kisah masa lalu hingga pencapaian mereka kini. Gunawan ternyata menolak perjodohan dengan putri Pak Camat, lalu karena marah ayahnya mengirim ia ke luar kota dan melanjutkan sekolah di sana. Hingga kini, Gunawan belum menikah, demikian pula Lasti. Tetapi mereka tahu, cinta yang dulu pernah ada hanya tinggal kenangan, sama sekali tak ada rasa tersisa, mereka makan bersama dan saling berbagi cerita sebagai sahabat. Dan sepertinya ini yang paling tepat. Sungguh hari itu merupakan pengalaman makan yang paling menyenangkan bagi Lasti. Setelah bertahun tak berjumpa, ternyata tak ada yang berubah pada Gunawan. Ia tetap sosok yang baik hati dan menyenangkan.

Bagi Gunawan, Lasti yang sekarang jauh lebih mempesonakannya. Sempat terbersit keinginan untuk kembali bersama, tapi ia terlalu malu. Mengingat dulu ia sempat menolak kehadiran Lasti karena kondisinya. Ia cukup tahu diri (untuk tidak menyebutnya rendah diri) bahwa Lasti takkan mungkin berkenan menerimanya kembali. Lasti merasakan kegundahan Gunawan. Bagaimanapun batin mereka pernah saling terikat satu sama lain. Lasti tak dapat berbuat banyak, di suatu tempat sana mungkin jodohnya sedang menanti untuk ditemukan. Bisa jadi dia adalah Gunawan, bisa juga lelaki lain, tidak ada yang tahu, tapi kita boleh saja menduga-duga. Bukankah selalu menyenangkan menerka rencana Tuhan yang berikutnya?

Lalu apa kabar Lasti? Perempuan yang berjuang dari nol hingga dapat menjadi pengusaha kuliner ini kini masih menjadi Lasti yang baik hati. Begitulah ia di mata karyawan-karyawannya yang berjumlah ratusan. Lasti si anak desa yang dulu diremehkan berhasil meraih kesuksesan di kota dan bahkan membantu mengurangi angka pengangguran dengan membuka lapangan pekerjaan. Tentang cita-citanya menjadi bidan? Lasti masih menyimpannya, namun kini adik bungsunya yang melanjutkan. Ya, adik bungsunya itu kini menjadi bidan pertama yang asli penduduk desa. Lasti bertekad menyekolahkan adik-adiknya supaya mereka menjadi ‘orang’ suatu hari nanti dan tidak mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti dirinya dulu. Namun, hingga kini Lasti belum menikah, di usia senjanya ia memilih membesarkan banyak anak asuh yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri. Tidak ada yang tahu, barangkali di lubuk hatinya yang terdalam cintanya hanya untuk Gunawan.

Aku menghabiskan potongan terakhir ayam penyetku, cerita tentang perempuan yang berjuang untuk keberhasilan dirinya sendiri selalu membuatku kagum. Perempuan mempunyai daya dan upaya yang kadang tidak pernah kami perkirakan sebagai laki-laki. Lasti, perempuan ini mengangkat dagu dan menolak menyerah pada kondisi yang mengintimidasinya. Ia memperbaiki hidupnya dan banyak hidup orang lain dengan tekad baja. Lasti mungkin bukan bidan seperti yang ia cita-citakan, tapi Tuhan tahu, ia dapat membantu lebih banyak orang dengan kondisinya yang sekarang. Tak terasa waktu beristirahat habis, kami akan segera melanjutkan perjalanan. Tetapi cerita tentang Lasti dan perjuangannya akan selalu aku simpan di hati.

Advertisements

Bioskop Harewos: Bercerita dalam Gelap

Seseorang bertanya pada para tunanetra, “Apa yang kalian lihat saat bermimpi?”, beberapa menjawab gambar dengan suara –meskipun gambar yang mereka lihat dalam mimpi tidak sama dengan apa yang kita kenal-, beberapa berkata hanya ada suara dengan kegelapan seperti halnya saat terjaga. Tapi Ramdan menjawab berbeda, ia bilang selalu menantikan mimpi, karena bunga tidurnya itu yang tetap membuatnya mejejakkan kaki di bumi dan tidak melupakan orang-orang yang ia cintai.

Ramdan adalah tunanetra yang aku temani saat kegiatan Bioskop Harewos di NuArt Sculpture Park hari Sabtu lalu. Dulu dia pernah bisa melihat, setidaknya sebelum kecelakaan merenggut penglihatannya saat remaja. Ramdan tampak berbeda dari tunanetra yang lain, ia tampil cukup bergaya dengan kaus bergambar John Lennon, jaket semi parka, celana jeans, sneaker, dan tidak lupa kacamata hitam bergaya anak band untuk melengkapi penampilannya hari itu. Sekali lihat orang akan langsung dapat menebak bahwa Ramdan ini penyuka musik, dan benar saja, saat mengobrol dengannya aku tahu bahwa ia dapat memainkan gitar, keyboard, drum, dan angklung.

Sebelumnya Robby, salah seorang panitia kegiatan, memberi tahuku jika Dewa Budjana sedang berkunjung ke NuArt, dan kalau beruntung ia akan bersedia menemani kami semua menonton film. Maka aku ceritakan hal itu pada Ramdan. Tanpa diduga, cerita selintas lalu ini membuat ronanya berubah seketika, ia tampak senang dan memintaku untuk memfotonya bersama Budjana karena menurutnya ia adalah gitaris favoritnya. Lalu ia segera menirukan gaya Dewa Budjana dan suara gitarnya. Tanpa canggung, tanpa malu, dengan luwesnya ia bergaya seakan-akan sedang berada di atas pentas.

Sebelum kegiatan dimulai, kami dibekali dengan beberapa teori tentang cara dampingan yang tepat bagi para tunanetra, kami belajar bagaimana menuntun mereka saat berjalan, menaiki tangga, duduk, hingga beberapa hal yang khas menjadi kebiasaan mereka. Tapi Ramdan ini sangat mandiri, ia hampir tidak membutuhkan bantuanku kecuali saat menonton film, Ramdan berjalan tanpa berpegangan padaku, ia juga menaiki tangga sendiri, menurutnya aku cukup memberi tahu arah atau memperingatkan jika ada sesuatu di depannya. Saat naik tangga pun, aku hanya cukup menyentuhkan tangannya pada teralis, dan sisanya ia lakukan sendiri.

Ramdan ini juga ternyata penikmat seni, saat memasuki area galeri NuArt, kami masing-masing dibekali sebuah sarung tangan, maka dengan ini Ramdan dapat juga ‘melihat’ setiap karya seni yang ada di sana. Seperti seorang arkeolog ulung, Ramdan mengamati setiap benda seni yang disentuhnya dengan teliti, meraba setiap senti permukaannya, mengetuk-ngetuk untuk membandingkan suara, lalu menebak bahan pembuatnya, tak lupa kami juga berdiskusi tentang makna dari benda-benda seni tersebut, aku yang awam dalam hal seni cukup kesulitan di sini, maka kami bersama-sama menerka-nerka makna dari benda-benda seni yang sebagian besar berbentuk abstrak tersebut.

Ramdan memiliki mimpi besar, kelak setelah lulus dari pendidikannya di sebuah sekolah khusus tunanetra, ia ingin membuka panti pijat, mengumpulkan uang, lalu segera menikahi gadis pujaan hatinya. Tanpa sadar aku bersorak dan menepuk pundaknya keras-keras demi mendengar kabar bahagia ini. Tapi ternyata baginya tingkahku ini berlebihan, “tunanetra juga boleh menikah kan?” tanyanya, “tentu, aku hanya terlalu senang mendengar kamu yang bersemangat menjalani hidup. Pilihan untuk menikah berarti kamu memiliki banyak energi untuk tetap berjuang dalam hidup.” jawabku. “Ya memangnya apa lagi yang kami punya selain semangat hidup dan percaya pada rencana Tuhan. Kalau ga ada itu, habislah jadi sampah, jadi beban orang rumah”, katanya dengan senyum tersungging. “Ya, apalagi selain semangat dan percaya pada rencana Tuhan?” kataku membenarkan dalam hati.

Ramdan bercerita padaku ia kehilangan penglihatan saat usia remaja, sudah hampir 12 tahun. Banyak hal yang sudah hampir ia lupakan sejak kehilangan penglihatannya itu, ia hampir lupa wajah ibunya, kerabat dan sahabat-sahabatnya, juga rupa dan warna-warni dunia. Beruntungnya, setiap bermimpi hal-hal itulah yang ia lihat, maka bermimpi mengingatkannya pada rupa orang-orang terkasihnya, pada indahnya dunia, lalu semakin menguatkannya untuk bangun dan meraih mimpi.

Namun, ada cerita lain tentang mimpi ini, bagi mereka yang terlahir tunanetra, mimpi mereka sama gelapnya dengan bangun mereka. Tak ada beda, hanya suara dan kegelapan, “kalau mimpinya ada gambarnya, saya ga mau bangun lagi, udah aja mimpi terus”, begitulah pendapat sebagian dari mereka. Di Bioskop Harewos, para tunanetra ini diajak menonton film dengan seorang pendamping yang disebut visual reader yang akan menerjemahkan setiap bentuk visual dalam gambar menjadi audio lalu membisikkannya pada para tunanetra. Harapannya, meski sedikit, para tunanetra ini akan terbantu dan dapat menikmati film dengan lebih baik. Bukankah film sedianya dapat dinikmati oleh semua orang tanpa batasan apapun?

Bioskop Harewos ini diadaptasi dari Bioskop Bisik yang sudah secara berkala digelar di Jakarta. Penggagasnya, Dita dan Robby, adalah 2 anak muda keren yang terpanggil untuk memberikan kebahagiaan  menonton film kepada mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Sebetulnya acara serupa pernah diselenggarakan tahun 2015 sebagai salah satu rangkaian kegiatan “1.000 Wajah Bandung”, hanya saja kala itu, Bandung Film Council sebagai penggagasnya belum memikirkan keberlanjutan kegiatan tersebut lebih jauh. Hingga akhirnya Dita dan Robby memutuskan untuk menjadikan Bioskop Harewos sebagai kegiatan yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan di hari Sabtu yang mendung lalu terkumpul 20an tunantera, yang masing-masing didampingi oleh seorang visual reader. Rona bahagia terpancar dari setiap wajah tunanetra yang hadir hari itu. Beberapa di antaranya berkesempatan menyampaikan kesan dan pesannya atas kegiatan yang baru saja berlangsung. Semuanya mengatakan bahagia, karena ini adalah pertama kalinya mereka menonton dengan seseorang yang setia membisiki sepanjang film. Biasanya saat menonton bersama, mereka bingung dan sedih karena seringnya ketika ada adegan lucu dan semua orang tertawa, mereka tidak bisa ikut tertawa karena tidak tahu apa yang terjadi. Berbeda dengan hari itu, mereka tertawa bersama dengan para visual reader yang berhasil menerjemahkan adegan dalam film dengan sangat baik. Maka ini adalah kegiatan menonton bioskop paling berisik yang pernah aku alami.

Hari itu aku belajar banyak, tentang empati, bersyukur, keceriaan, dan semangat hidup yang tetap menyala-nyala bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Tiba-tiba, terbersit malu akan diri sendiri yang sering merasa tidak berdaya dan lemah, mengeluh dan mengaku payah, lalu malas melanjutkan perjuangan padahal tinggal selangkah. Keceriaan dan semangat hidup mereka menular pada setiap yang hadir di sana. Hidup ini indah, bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, Tuhan tetap menyisipkan keindahan di antaranya, tinggal cara kita untuk menajamkan pandangan dan lebih bersyukur atas hidup yang dianugerahkannya.

“dulu waktu masih bisa melihat, aku suka kesel kalau nenekku berisik ngomentarin acara tv yang lagi kami tonton. Tapi ternyata sekarang aku butuh orang yang ngomentarin biar bisa ‘nonton’. Terima kasih ya.” Kata Ramdan begitu film selesai diputar.

capture
Para tunanetra berfoto bersama visual reader usai nonton bareng

Forum Bincang Orang Tua: Sebuah Catatan Tentang Tahap Perkembangan 7 Tahunan

Tidak mudah membesarkan seorang anak, tentu semua orang akan sepakat. Tetapi bukankah selalu ada cara untuk mempermudahnya dan menyadari setiap jengkal prosesnya menjadi lebih bermakna? Ya, dan saya mengalaminya hari ini. Saat sebuah ruangan hampir penuh terisi oleh ibu-ibu muda yang mencari “sekolah” untuk dirinya. Mereka berbagi, saling bercerita tentang suka duka membesarkan anak dengan segala tantangan perubahan zaman sambil tetap berusaha menjaga keutuhan pertumbuhannya.

Kami membicarakan sebuah konsep, yang menjelaskan bahwa manusia akan melewati 3 tahap perkembangan sebelum akhirnya benar-benar menjadi manusia utuh, yang disebut sebagai konsep tahap perkembangan 7 tahunan. Tahap 7 tahun pertama meliputi anak berusia 0-7 tahun, tahap ke dua 7-14 tahun, dan tahap ke tiga berusia 14-21 tahu. Lalu, apa perbedaan masing-masing tahap perkembangan tersebut? Tentu bukan hanya pada perubahan fisik anak yang membedakan antara anak berusia 7 dan 14 tahun, ada karakter yang melekat pada diri setiap anak, peran yang harus dijalankan orang tua untuk mendampingi proses tumbuh kembangnya, sosok yang anak tampilkan dalam keseharian dan bisa dilihat secara kasat mata, dan kesadaran yang idealnya sudah dimiliki oleh anak di usia tersebut. Sebetulnya, yang lebih banyak diulas pada forum ini adalah tentang tahap 7 tahun pertama, mengingat orang tua yang hadir merupakan orang tua dari anak-anak di usia ini, namun sebagai antisipasi dan agar orang tua mendapat gambaran tentang fase selanjutnya yang harus dijalani anaknya, 2 fase sisanya juga ikut dibahas meski dengan porsi yang tidak terlalu banyak.

Tahap 7 tahun pertama: anak sebagai raja

Secara umum hal yang banyak berkembang pada tahap 7 tahun pertama adalah karsa. Anak menghadirkan dirinya sebagai sosok dengan banyak keinginan, jika diibaratkan anak dalam tahapan ini dapat diidentikkan dengan raja kecil. Hal yang menarik dan cukup menggelitik bagi saya (dan beruntungnya kemudian salah satu orang tua lebih dulu bertanya tentang ini sehingga rasa penasaran saya terjawabkan), karena raja secara harfiah merupakan orang dengan kekuasaan tak terbatas. Pemilik langit dan bumi, begitu orang dulu menggambarkan. Lalu, apakah ini berarti kebebasan bagi anak untuk mendapatkan dan melakukan apapun sesuai kehendaknya? Hal yang banyak disalahartikan oleh orang tua atas definisi raja ini ternyata cukup serius, banyak orang tua yang justru malah memanjakan dan tidak memberikan nilai-nilai pendidikan pada anaknya. Poinnya adalah, raja ini butuh lebih dari sekadar pelayanan, butuh lebih dari sekadar kasih sayang (yang banyak ditunjukan orang tua dengan memanjakan anak), tapi memberikan kesempatan pada anak untuk bertumbuh secara utuh sebagai kebutuhan seorang anak sesuai tahap perkembangannya adalah hal terbaik yang dapat diusahakan orang tua. Maka dari itu, ditekankan bahwa peran orang tua bukan sebagai dayang, apalagi pelayan, tapi lebih sebagai patih atau penasehat. Bukankah sejak lampau kita banyak mendengar bahwa kebaikan atau kejahatan seorang raja dipengaruhi oleh patihnya?. Dalam kisah Kerajaan Majapahit misalnya, ada Patih Mahapati yang membisiki Raja Jayanegara hingga raja yang sebetulnya baik hati ini sampai hati mengobarkan perang dan menyingkirkan rakyatnya sendiri, di lain masa ada Patih Gajah Mada yang memiliki peran tak terbantahkan dalam membantu pesatnya kemajuan kerajaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Jadi mau jadi seperti apa raja kecil kita, patih yang menentukan.

Banyak yang menyebut tahap ini sebagai usia emas. Pada usia ini anak-anak sedang mengembangkan semua fungsi dalam tubuhnya. Oleh karenanya, stimulus yang baik amat dibutuhkan untuk mengoptimalkan pertumbuhannya.

Pada tahap ini kepekaan emosional anak sedang berkembang. Anak mulai mengenal dan menampilkan ragam emosi dalam kesehariaannya. Sering kita mendapati anak yang mengungkapkan segala sesuatu dengan tangisan, atau ada juga yang menanggapi dengan marah. Saya membayangkan, barangkali anak tersebut tidak cukup mendapat paparan tentang ragam emosi lainnya. Bayangkan jika sejak lahir anak kita sudah dipaparkan dengan kekecewaan, keputus asaan, kemarahan, maka itulah emosi yang akan dia kenal. Pun sebaliknya, anak yang ceria dan bahagia cenderung hadir dari lingkungan keluarga yang ceria dan bahagia pula. Begitulah, anak bagaikan spons yang menyerap setiap pengetahuan baru yang didapatkannya.

Anak-anak hidup dalam dunia imajinasi, maka penting bagi orang tua untuk menghadirkan dunia sebagai tempat yang indah dan bersahabat. Memaparkan dongeng dan cerita dengan nilai moral yang baik akan melekat pada diri anak hingga ia dewasa. Selain itu, pada tahap ini anak-anak belajar lewat pengalaman fisik. Maka, mengajak mereka untuk mengalami banyak hal dengan berbagai kegiatan yang akan memperkaya pengalamannya sangat dianjurkan untuk keutuhan perkembangannya.

Hal terpenting adalah dengan menciptakan rasa aman. Salah satu hal yang bisa diusahakan untuk membantu menciptakan suasana ini adalah dengan menghadirkan rutinitas dalam kesehariannya. Fakta baru yang menarik, ternyata rutinitas selain membangun kedisiplinan pada anak, juga menghadirkan rasa aman bagi mereka. Anak merasa lebih aman saat mengetahui apa yang harus dan akan dilakukan. Karena itulah menghadirkan rutinitas menjadi penting adanya.

Tahap 7 tahun ke dua dan ke tiga: anak sebagai tawanan & perdana menteri

Fase kedua tahap 7 tahunan mencakup anak dengan rentang usia 7-14 tahun. Anak-anak pada usia ini mulai menumbuhkan rasa estetikanya, sesederhana menolak memakai baju yang dipilihkan oleh orang tua, bercermin sebelum berangkat sekolah, hingga berkarya dengan semangat yang lebih terjaga. Selain itu, pada tahap ini anak cenderung semakin senang mendebat dan berkomentar yang menunjukan bahwa kemampuan berpikir rasionalnya sudah bekerja dengan baik. Segala rasa sedang berkembang pada anak-anak di tahap ini, maka nilai-nilai kebaikan harus semakin sering dipaparkan, mengingat pemahaman etika dan respeknya mulai terbangun. Paparan seni akan sangat baik untuk semakin menumbuhkan sikap-sikap di atas. Namun di sisi lain, pada tahap ini anak cenderung memunculkan sikap keakuan yang besar, merasa dirinya sudah dewasa, ingin dianggap setara, dan keyakinan bahwa dirinya mampu bertindak apa saja, disinilah anak-anak itu diibaratkan sebagai tawanan, dengan otoritas dan peran orang tua yang seyogyanya lebih mendominasi agar timbul rasa segan dan hormat pada orang-orang dewasa di sekitarnya.

Di tahapan ke tiga anak-anak sedang membangun nalarnya, mereka mulai menunjukkan kemandirian dalam berpikir, serta mampu berpikir secara abstrak dan kreatif. Pada tahap ini anak diibaratkan sebagi perdana menteri, rekan yang setara, maka hendaknya tidak ada yang didominasi ataupun mendominasi. Mereka sudah mampu menyelesaikan masalah dan bisa menjadi teman diskusi yang asyik. Mengesampingkan faktor-faktor di atas akan sangat melukai hati anak-anak pada usia ini. Dalam tahapan ini, anak hendaknya diajak bermusyawarah dan mengambil keputusan, terutama jika keputusan itu adalah terkait dirinya. Sesederhana memilih sekolah atau jurusan di perguruan tinggi. Lagi-lagi yang perlu orang tua lakukan adalah memberikan pilihan dengan tak lupa memaparkan resiko atas setiap pilihan yang nantinya akan diambil.

Ah ya, saya ingat, di usia ini Bapak sering mengajak saya menonton berita bersama-sama, setelah itu kami mendiskusikan berita yang sedang ditonton bahkan tak jarang hingga diakhiri dengan perdebatan. Namun seringnya, saya akan kesal jika kalah dalam perdebatan. Sepertinya tahap perkembangan ke dua saya belum utuh. Namun, ini bukan hal yang perlu dikhawatirkan, karena saat fase perkembangan seorang anak tidak utuh, anak tersebut secara naluriah akan mencari sendiri dan mengutuhkan diri di fase-fase berikutnya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan segala kemampuan untuk belajar dan bertahan hidup?

Sebuah forum yang menarik bagi saya. Saya mengambil sebuah kesimpulan singkat, bahwa lebih dari segalanya anak adalah seorang individu otonom yang sedang bertumbuh dengan segala keunikannya, maka menemani sambil memahami setiap proses tumbuh kembangnya, serta menjadi teladan yang baik dan inspirator yang membanggakan adalah hal terpenting yang bisa kita usahakan sebagai orang tua.

Sebagai penutup, ada sebuah cerita menarik dari sisi saya. Saat kecil saya sangat ingin les piano seperti artis idola saya, Sherina. Tapi apa daya, bertempat tinggal di pedesaan yang jauh dari keramaian tidak memungkinkan saya mewujudkan keinginan tersebut. Lalu sempat terbersit pikiran jika mempunyai anak nanti, saya akan mendaftarkannya pada sebuah tempat les piano, seperti keinginan saya dulu. Namun rupanya, les piano adalah hal yang saya idam-idamkan, tapi bukan berarti akan diinginkan juga oleh anak saya. Anak saya bukan perwujudan saya, ia adalah dirinya sendiri, maka dengan memintanya melakukan apa yang ia tidak minati berarti saya sudah merampas haknya untuk bertumbuh secara utuh. Lalu sebagai penasehat, apa yang bisa saya lakukan? Memaparkan sebanyak mungkin referensi, membiarkannya memilih sendiri hal yang menjadi minatnya, dan memberikan pertimbangan yang bijak atasnya tentu akan membuat prosesnya jadi lebih wajar. Begitulah, menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tapi kita selalu bisa belajar dari mana saja kan?

 

Pertemuan, Sawit, dan Asap

Ada milyaran manusia di dunia. Beberapa kita kenal sebagai nama, rupa, dan jiwa. Beberapa hanya sebagai salah satunya. Banyak yang datang dan pergi, tapi hanya beberapa yang tinggal di hati. Kita mengenalnya sebagai teman, kerabat, keluarga, rekan, sahabat, atau sekadar kenalan.

September 2015

Setahun lalu, dalam pesawat menuju Jakarta, aku mendapat teman duduk seorang ibu dan anaknya yang belum lagi berusia 5 tahun. Aku yang saat itu sudah terlebih dahulu duduk dan memasang headset terusik dengan kedatangn mereka yang aku anggap riweuh dengan segala keribetan barang bawaannya. Suasana hati dan tubuh yang sedang kurang baik membuatku memutuskan untuk tidur sepanjang penerbangan, namun harapan tinggal harapan, penumpang di sebelahku membuatnya mustahil kulakukan.

Tak lama setelah duduk, ia bertanya padaku cara memasang seat belt, mereka mengaku baru sekali ini naik pesawat. Maka aku pause musikku dan membantu mereka, setelahnya, aku kembali fokus menikmati musik dan sakit kepala serta tubuh meriang. Tak lama, sang ibu kembali mencolek aku, bertanya cara mengoperasikan layar monitor yang ada di depan tempat duduk kami. Aku kembali meladeninya dan sebisa mungkin membuat pekerjaanku cepat selesai lalu kembali pada musikku. Belum habis satu lagu, si ibu kembali mencolekku dan bertanya letak toilet, aku pun lalu menunjukkannya. Tapi colekan terakhir itu membuat mood mendengarkan musikku menguap. Aku sekarang lebih tertarik dengan pasangan ibu dan anak ini. Maka saat mereka kembali dari toilet aku segera membuka percakapan, dimulai dengan pertanyaan standar basa-basi, “Mau pergi kemana?” tanyaku. Ternyata mereka hendak pergi ke Jakarta untuk menunggui suami (atau ayah dari si anak) yang akan menjalani operasi. Aku mulai tertarik, dan melanjutkan pertanyaan, “Loh, emangnya sakit apa?” yang ia jawab dengan sebuah cerita yang menurutku menyentuh.

Ia dan suaminya memiliki 3 orang anak. Menghidupi istri dan 3 orang anak di kota sebesar Medan ternyata bukanlah hal mudah. Anaknya yang paling besar baru duduk di kelas 5 SD, dan yang terkecil, yang ia bawa sekarang, baru masuk TK. Namun beruntungnya, ia memiliki suami yang rajin bekerja, segala macam pekerjaan ia lakoni, mulai dari sopir truk sayuran, hingga teknisi listrik dan alat rumah tangga. Lalu suatu hari, kabar baik menghampiri keluarga kecil ini, suaminya diajak bekerja di perkebunan sawit di luar pulau, sampai sini aku mulai jengah, entah kenapa demi mendengar kata perkebunan sawit hatiku selalu tidak tenang, tapi aku bertahan dan berusaha tetap mendengarkan ceritanya. Singkat cerita, 8 bulan sebelumnya suaminya pergi ke Kalimantan untuk bekerja, sejak saat itu kehidupan ekonomi semakin membaik karena sekarang suaminya memiliki penghasilan tetap yang ia kirim ke rumah dengan rutin. Hingga akhirnya sebuah kecelakaan kerja terjadi. Sayangnya, karena perawatan di Rumah Sakit di Kalimantan kurang cukup memadai dan untuk memudahkan mobilisasi dengan keluarga ia akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.

Sebuah cerita baru dari sedikit bagian tentang perkebunan sawit aku dapatkan darinya. Aku sungguh-sungguh bersedih kala itu, mengingat banyaknya hutan yang harus dibakar untuk membuka lahan, banyaknya lahan pertanian milik petani lokal yang tergusur, belum lagi fauna yang kehilangan rumah, tentu perkebunan sawit adalah hal yang mengganggu bagiku, lalu kemudian aku bertemu dengan potret keluarga seorang pegawai perkebunan sawit biasa yang rela bekerja jauh dari kampong halaman untuk menghidupi istri dan 3 orang anak. Sudah bekerja keras, terpaksa jauh dari keluarga, harus pula terancam cacat seumur hidup. Lalu, siapa yang paling diuntungkan?Nyatanya, pegawai seperti suaminya bukan hanya satu, ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya dari pekerjaan semacam ini. Bagaimanpun seperti semua hal di dunia, meskipun banyak mendatangkan kerugian, menutup lahan sawit tidak mudah dengan banyaknya resiko angka pengangguran yang pastinya semakin bertambah. Lalu akupun berhenti di situ tidak mau memikirkan kelanjutannya.

Kami terus bercakap-cakap, membicarakan banyak hal, tentang hari-hariku di Medan hingga hal-hal yang lebih mendalam, tapi sejauh itu, kami belum saling berkenalan, apalagi bertukar nomor telepon hingga akhirnya berpisah di tempat pengambilan bagasi. Dan setelahnya ibu dan anak itu tinggal  menjadi cerita yang tak lama kemudian aku lupakan.

 

Oktober 2015

Beberapa minggu setelahnya, aku berkesempatan untuk pergi ke Kalimantan Utara. Ini kunjungan keduaku di provinsi termuda di Indonesia ini. Penerbanganku hampir dibatalkan karena bandara di Tarakan tertutupi kabut asap, lama aku menunggu hingga mendapat kepastian bahwa pesawatku akan tetap berangkat karena kabarnya cuaca membaik dan asap berkurang. Segera setelah turun dari pesawat aroma kayu terbakar langsung menyergap hidungku. Aku terbatuk-batuk sambil menutupi mulut dan segera berlari ke dalam ruangan. Di luar bandara asap lebih membabi buta, jarak pandang tak lebih dari 10 meter, padahal pada kunjunganku beberapa bulan sebelumnya, Tarakan adalah kota yang indah dengan udara segar dan tanpa polusi sama sekali, mengingat jumlah kendaraan bermotor pun masih terbatas. Aku yang berencana bertemu seseorang di Ibu Kota Kalimantan Utara, segera menuju pelabuhan speedboat untuk menuju ke Tanjung Selor. Tiba di pelabuhan, aku medapati tidak ada satupun speed yang beroperasi dan ada banyak penumpang yang terbengkalai, mereka duduk di kursi-kursi, memenuhi sudut-sudut ruangan, bergeletakan di lantai-lantai pelabuhan, dengan muka berminyak dan pakaian menempel pada kulit. Berdesakan menunggu kepastian kembali ke rumah yang entah kapan akan didapat. Aku membayangkan, ada istri yang sudah memasak lalu berdandan cantik agar suaminya terpesona saat tiba di rumah dari rantau, aku membayangkan ada anak-anak yang sudah dipakaikan pakaian terbaik dan menanti di tepi sungai tempat speed biasa bersandar dengan harapan menjadi orang pertama yang menyambut ayahnya pulang, sementara yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Tahu apa lagi yang aku risaukan kala itu? Anak-anak yang seharian harus berakritifitas dengan masker dan terpaksa tidak bersekolah karena sekolahnya diliburkan, nelayan-nelayan yang hasil tangkapan ikannya menurun dan tidak berani melaut terlalu jauh karena sulit melihat arah dalam kepungan asap, sementara istrinya tidak dapat mengeringkan sedikit ikan yang tersisa karena bahkan matahari saja enggan menembus asap yang memedihkan matanya. Asap nyatanya mengambil lebih daripada apa yang diberikan. Aku melihat hiruk pikuk akibat pembakaran hutan, lebih nyata, bukan hanya cerita di TV. Aku mengalami sulitnya bernapas di udara kotor yang memedihkan mata, aku mengalami betapa udara bersih dan sinar cemerlang matahari menjadi begitu mahal. Lagi-lagi, sebuah cerita baru dari sedikit bagian tentang perkebunan sawit aku dapatkan dari pengalaman ini.

 

Agustus 2016

Akhir pekan yang lalu, usai menghadiri sebuah acara di Gedung Indosat, Jakarta, aku menanti busway yang akan membawaku menuju pool travel yang akan membawaku pulang, tiba-tiba, seorang ibu dan anak masuk ke dalam halte dan entah kenapa menghampiriku. Aku yang merasa tidak asing dengan wajah itu, berusaha mengumpulkan berbagai ingatan yang berserakan tentang dimana dan bagaimana aku bisa bertemu dengannya, sementara dengan riweuhnya, ia berkata telah salah menaiki busway dan bertanya padaku rute tepat yang harus diambilnya. Aku yang juga sebenarnya tidak terlalu paham berusaha membantu mereka dengan bantuan mesin pencari dan peta rute Trans Jakarta, dan untuk memastikannya aku bertanya pada salah seorang yang ada di sana. Dengan logat Sumatera Utara yang kental ia berkata hendak kembali ke rumah sakit tempat suaminya di rawat, “Padahal sudah setahun di Jakarta, tapi belum tau juga. Gara-garanya di rumah sakit terus. Ga bisa kemana-mana.” Dengan kalimat penutup ini ia pergi meninggalkan aku yang termenung dengan bermacam pemaknaan usai bertemu dengannya untuk yang pertama kali di pesawat menuju Jakarta satu tahun lalu.

Beberapa meninggalkan cerita, beberapa menyertainya dengan luka, hanya tinggal cara kita membuatnya menjadi bermakna.

 

Pada Akhirnya, Anak Cicit Kita Hanya Membutuhkan Bumi yang Nyaman untuk Ditinggali

Kakakku lelaki yang lama tak pulang, mengabarkan bahwa ia akan mengikuti sebuah Kejuaraan Karate akhir minggu ini. Lokasinya tak jauh, masih dapat dijangkau dengan berkendara selama 4 jam dari Bandung. Maka Sabtu amat dinihari lalu, aku dijemput keluarga untuk mendatangi lokasi kejuaraan. Tiba di sana waktu menunjukan pukul 7 pagi. Kami segera memasuki GOR yang masih sepi, karena pertandingan belum dimulai. Hatiku bergetar melihat deretan tatami dan seperangkat alat pertandingan. Ingat masa-masa ketika aku masih aktif menjadi atlet yang rasanya sudah berabad berlalu. Aku dapat merasakan atmosfer ketegangan dari setiap individu yang hadir di sana. Suasana kompetisi sangat terasa di udara. Dan aku tertular gairah itu, ada haru menyelinap saat melihat wajah-wajah tegang para atlet muda yang hendak bertanding. Mereka sedang berjuang, tidak hanya untuk dirinya sediri, tetapi juga untuk daerahnya, lebih dari itu mereka berjuang melawan ketakutan akan lawan tidak dikenal dan kekalahan. Iya, takut kalah itu perasaan yang paling menyebalkan di dunia dan menyedot energi kita lebih dari apapun. Ingin rasanya saat itu juga aku melompat ke dalam arena dan mencoba kembali beberapa jurus yang dulu menjadi andalan.

Di sisi lain, kru-kru official pendamping tim berseliweran di depanku sambil membawakan nasi box  untuk para atlet. Box ukuran besar yang jumlahnya tidak sedikit. Hal ini mengingatkanku bahwa kami belum sarapan, makanan terakhir yang kami makan adalah setangkup roti untuk masing-masing saat mampir di rumahku. Maka aku dan kakak perempuanku memutuskan pergi mencari makanan. Ternyata kami begitu menikmati berjalan-jalan di Kompleks Mabes TNI yang rindang, hingga lepas dua jam kami baru kembali. Lalu aku melihat Gedung Olahraga yang saat pagi hari ketika baru pertama kali datang masih sepi dan bersih kini sudah penuh oleh orang dan sampah yang mereka hasilkan. Tumpukan-tumpukan dus dan styrofoam  bekas nasi bertebaran di mana-mana, kulit-kulit buah memeriahkan suasana, belum lagi botol-botol bekas air mineral yang sudah habis isinya. Bukankah gedung ini hampir penuh berisi atlet? Golongan khusus yang tak diragukan lagi usahanya dalam menjaga kebugaran tubuh.

Aku jadi ingat, dulu semasa masih menjadi golongan atlet, pemandangan seperti ini bukan hal asing buatku. Dalam setiap kejuaraan yang aku ikuti, ada kemeriahan yang dihadirkan, ada euphoria yang ditawarkan, tapi tentu dengan setumpuk sampah yang disisakan. Suatu kejuaraan biasanya berlangsung antara 2 hingga 5 hari, tergantung level kejuaraan dan jumlah pesertanya, berlangsung seharian, dari pagi hingga petang, dan kita harus tetap berada di lokasi untuk bersedia jika sewaktu-waktu bertanding dan mendukung kawan satu tim yang berlaga. Otomatis segala aktifitas makan, minum, dan ngemil dilakukan di GOR tempat kejuaraan berlangsung. Lalu kesadaran bahwa saat itu aku adalah pelaku atlet yang tidak menjaga lingkungan tiba-tiba mengusikku. Dulu aku terlalu muda untuk peduli tentang dampak dus-dus dan Styrofoam itu pada lingkungan. Terlalu polos (iya, dulu aku pernah lugu dan polos :p) untuk memahami bahwa perlakuan kita pada alam di masa kini lah yang akan menentukan menjadi seperti apa Bumi kita di masa anak cicitku nanti. Terlalu naïf untuk peduli pada lingkungan padahal sebagai atlet, aku sangat bergantung pada udara bersih kaya oksigen, makanan sehat penuh nutrisi, dan air jernih untuk menjaga kebugaranku. Maka hanya ketiga hal itu yang aku, dan kemungkinan banyak atlet lainnya, pedulikan. Aku akan marah saat ada kendaraan bermotor yang menghasilkan terlalu banyak asap, atau jika ada yang membakar sampah sembarangan, semata-mata karena asapnya mengganggu pernapasanku saat sedang jogging. Tetapi sampah, dampaknya tidak aku rasakan saat itu tentu saja. Asalkan tidak ada di depan mata maka dia bukan masalah bagiku, aku mengkonsumsi banyak plastik, menghabiskan banyak dus dan styrofoam sepanjang masa keatletanku. Kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini saling terkoneksikan satu sama lain belum hinggap di nalarku saat itu. Maka aku menjalani masa-masa yang aku anggap terbelakang ini selama bertahun-tahun.

Kembali ke arena pertandingan, biasanya, setiap GOR memiliki kelompok petugas kebersihannya masing-masing. Maka saat senja datang dan pertandingan hari itu berakhir, akan tampak jelas GOR lalu berganti dikuasai oleh koloni sampah yang berserakan dimana-mana. Tetapi salut untuk para petugas kebersihan, sekuat apapun sampah yang diahadapi, mereka selalu keluar sebagai pemenang, dan hasilnya kita bisa menikmati GOR yang resik pada keesokan harinya. Hal yang sama berulang berhari-hari, dan berevent-event kejuaraan. Dan ternyata belum berubah hingga kini, bertahun setelah aku meninggalkan karir keatletan. Lebih buruk karena dus dan styrofoam sekarang dibuat lebih tebal dan besar atas nama perbaikan kualitas agar tetap dicari konsumen. Tetapi yang paling membuatku sedih adalah kesadaran untuk paling tidak membuang sampah pada tempatnya ternyata belum banyak dimiliki oleh para atlet dan official yang mengaku memahami kesehatan. Mereka melakukan banyak cara untuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap prima tetapi hal sebesar sampah mereka abaikan. Lalu bagaimana bisa tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat tercipta jika faktor penting pendorong kesehatan saja belum mereka maknai. Para kontingen hendaknya memasukan kantong sampah dalam deretan barang yang harus disediakan seperti halnya peralatan pertandingan dan P3K. Niscaya aku akan percaya jika pegiat olahraga ini berbadan sehat dan berjiwa kuat.

Ah ya, PON sebentar lagi digelar. Di balik kemeriahannya, sepertinya akan sangat menarik memperhatikan keberadaan koloni sampah diperhelatan sebesar itu. Bukan hal yang mustahil sebetulnya untuk meniadakan koloni ini jika setiap orang memahami akibat dari keberadaannya. Aku kini sudah terbiasa di dalam lingkungan yang apik, resik dan bebas sampah, maka koloni sampah kecil saja bisa sangat menggangguku. Pernah ada pehelatan yang diselenggarakan sekolaku yang melibatkan ratusan orang tapi tidak menyisakan sampah sedikitpun. Bukan hanya karena kami membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga karena sebisa mungkin kami mengurangi produksi sampah. Ini level kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar membuang sampah pada tempatnya. Lalu ada di level berapakah sebagian besar masyarakat kita? Ajakan-ajakan untuk peduli pada keberadaan sampah ini terus digulirkan, bukan hanya oleh Dinas Kebersihan tapi juga oleh berbagai kalangan masyarakat. Kampanye tentang diet plastik hingga pemanfaatan kembali sampah banyak disuarakan dan sedang menjadi trend, trend yang positif tentu saja. Melihat segala gerakan ini aku lalu optimis bahwa masyarakat kita dapat mencapai level yang lebih tinggi perihal kepedulian terhadap keberadaan sampah ini. Begitulah cara paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperpanjang umur Bumi, untuk memastikannya tetap menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali anak cicit kita. Bukankah ini warisan yang paling manis?

 

Kegelisahan yang Benar-benar Gelisah

“Wah, siap-siap aja siapin hadiah banyak,” kelakar Kepala Sekolah saya dalam rapat koordinasi mingguan menanggapi ucapan salah seorang perwakilan dari Dinas yang berkata akan memberikan hadiah bagi anak yang diantar kedua orang tuanya di hari pertama sekolah. Cukup beralasan memang, pemandangan anak yang diantar kedua orang tuanya ke sekolah bukan hal baru bagi Semi Palar maupun sekolah-sekolah sejenisnya. Namun, menjadi menarik saat keriuhan ini kita saksikan di sekolah-sekolah negeri. Hari pertama masuk sekolah 18 Juli lalu menjadi hari paling menggairahkan sejauh saya menetap di Bandung. Kegairahan menguar di udara Bandung sepanjang hari. Iya, para orang tua ini menyengajakan diri untuk mengantar putra-putri mereka di hari pertama sekolah, tak peduli ibu rumah tangga, wanita karir, hingga bapak dengan peran ganda, mengikuti anjuran Menteri Pendidikan (sekarang Ex-Menteri) Anies Baswedan. Pro dan Kontra tentu mengiringi berjalannya program ini, alasan akan menambah kemacetan, hingga ijin instansi (bagi orang tua pekerja kantoran) turut mewarnai ingar bingar event (yang seyogyanya) tahunan ini. Tapi tetap tidak mengurangi semangat 18 Juli pagi itu. Saya menyaksikan senyum tulus dan semangat terpancar dari setiap individu yang turun dari angkot, dari setiap wajah yang memarkirkan motor. Menyasar kebiasaan, membangun kesadaran, bahwa keluarga, dalam hal ini orang tua, adalah pendidik pertama dan utama adalah pesan yang coba untuk disampaikan. Bahwa bahagia adalah sesederhana mengandeng tangan putra-putri memasuki gerbang sekolah, membisikan pesan-pesan semangat dan dibalas dengan senyum dan anggukan, tentu dapat terasa oleh bapak dan ibu yang rela datang terlambat ke ladang rejekinya demi mengantar buah hati tersayang. Kerja sama sekolah-rumah mulai terbangun bukan hanya di Semi Palar, kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama mulai menjalar di mana-mana. Meski sedikit, tapi perubahan itu nyata adanya. Ini bukan sulap, ini pendidikan kita yang sedang bergerak ke arah yang lebih baik, ke era yang lebih cerah, ke masa yang lebih menyenangkan. Lebih dari itu, hari pertama sekolah memang selalu menyenangkan, bagi siapapun. Terimakasih telah membuatnya berkali-kali lipat lebih menyenangkan Pak Anies. 20 bulan, dalam hitungan orang awam, tentu bukan waktu yang cukup untuk membuat suatu perubahan, namun Bapak sudah memulai semua usaha untuk perbaikan pendidikan jauh sebelum 20 bulan yang singkat itu. Terimakasih untuk ketulusan hati, keramahan, inspirasi, dan semangat yang Bapak tularkan pada kami. Semoga setiap niat baik selalu terjaga dan segala cita-cita dapat terwujud untuk Indonesia yang lebih baik.

Antara Takdir dan Pilihan untuk Menjalaninya

~2 bulan mendiami tempat kost baru aku mulai terbiasa dengan rutinitas di sekitar. Semisal, aku hafal pada pukul berapa speaker di masjid mulai dibunyikan untuk menyenandungkan puji-pujian setiap paginya. Aku ingat waktu-waktu saat pemilik warung tiba dari pasar dan mengangkut barang-barang dagangannya dengan menggunakan roda pedati. Aku hatam tentang pukul berapa biasanya anak-anak sekolah mulai berdatangan melewati jendela kamarku. Pun, aku tidak lupa pukul berapa biasanyapenjual nasi goreng lewat depan rumah kostku. Setengah delapan malam, kadang kurang kadang lebih. Tetapi selisihnya tidak banyak. Setengah delapan~
Ini malam yang mengesankan. Mengapa? Aku melewati sore hingga malam bersama kekasih. Mulai dari berbelanja beberapa keperluan hingga berdiskusi tentang beberapa hal. Diskusi berlanjut di whatsapp karena hari beranjak malam dan ia harus pulang. Entah kenapa, aku menemukan bahwa aktivitas otak dan hati yang dilakukan bersamaan bisa menimbulkan lapar yang berlebihan. Iya, ditengah-tengah diskusi aku kelaparan. Tak ada nasi, tak ada lauk. Maka akupun bingung. Pukul 22.04 dan aku mendengar bunyi yang biasa kudengar setiap pukul setengah 8. Tanpa ragu, untuk pertama kalinya, aku buka jendela, memanggil penjualnya, dan memastikan ia berhenti. Aku mau beli.
Sambil menunggu ia menyiapkan pesananku, aku bertanya, mengapa malam sekali baru datang? (meski belum pernah membeli, tapi aku tahu pasti jam berapa dia biasa lewat). Lalu jawabannya mengejutkanku, ia berkata tadinya hari ini tidak akan berjualan karena lelah. Tapi ia sudah menanak nasi untuk bahan nasi goreng, dan ada keluarga yang harus dihidupi. Maka meski kondisi tubuh sedang tidak baik ia memutuskan tetap berjualan, berjalan kaki dengan memikul dagangannya. Jika biasanya ia tiba di rumah pukul 2 malam, maka untuk malam istimewa ini aku tidak tahu pukul berapa ia akan pulang. Meski usianya masih belasan, tidak lebih dari 18 tebakanku, ia paham betul tentang tanggung jawab. Tentang perannya di dunia sebagai tulang punggung keluarga dan ia menjalankannya dengan baik.
Kejadian seperti ini beberapa kali aku alami. Fakta bahwa beberapa orang hidup dengan mudah sementara beberapa lainnya bersusah payah selalu mengusikku. Lalu aku ingat, Tuhan selalu mempunyai tujuan dibalik segala penciptaannya. Sesederhana Ia menginginkan kita bersyukur setiap mendapati kondisi kita amat baik dan bersabar saat menyadari kita sedang tidak baik-baik saja. Bahwa Tuhan memberikan peran yang berbeda-beda pada ciptannya dan bahwa semua peran tersebut penting adalah hal yang sedang coba aku tanamkan saat ini. Karenanya menjadi penting untuk memahami bahwa setiap ciptaanya saling bekaitan. Peran yang satu, mempengaruhi peran yang lain. Tidak hanya antara manusia, tapi juga dengan alam, binatang, bahkan situasi. Ternyata kita tidak hidup sendiri. Berhenti memandang hanya dengan kacamata kudamu. Ada banyak hal diluar sana yang menunggu untuk kita temukan keterkaitannya dengan diri kita.